MEMA’AFKAN, TERAPI PENYAKIT HATI

TERAPI PENYAKIT HATI

Tidak ada manusia yang luput dari masalah. Ketika masalah datang, ada yang mampu menyelesaikannya dengan baik, ada pula yang sulit menemukan solusi untuk menyelesaikannya. Terutama masalah yang hubungannya dengan relasi. Perceraian, perselingkuhan, kekerasan yang diterima seseorang dari orang lain, permusuhan, kebencian satu sama lain, merupakan masalah-masalah yang menimbulkan perasaan tak nyaman, menimbulkan dendam pada orang yang kita anggap sebagai ‘musuh’ atau ‘pelaku’ dan melahirkan sebuah luka batin.

Sementara itu, memaafkan pengalaman tersebut bukan hal yang mudah. Kesadaran bahwa menyimpan dendam bukan kondisi yang baik untuk melepaskan amarah juga dapat memakan waktu yang cukup lama. Akibatnya, kita mudah menyalahkan diri sendiri. Kita menyalahkan diri sendiri karena merasa telah gagal dalam hidup dan tidak mampu mengambil tindakan yang tepat saat terjadi masalah.

MEMAAFKAN MEMBUKA PINTU SURGA

Allah memerintahkan kita untuk segera memaafkan orang seperti dalam ayat-ayat. .

Surat Ali Imron ayat 133-134;

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣﴾ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Memberi maaf orang atas kesalahan yang mungkin tidak disengajanya termasuk keutamaan tersendiri bagi orang yang tersakiti. Rasululllah bersabda,

ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)

Rasulullah juga menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah Surga. Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Abbas;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ ” .

“Kelak pada hari kiamat, ada pemanggil yang menyeru, “Dimanakah orang-orang yang memaafkan orang lain? Kemarilah kepada Rabb kalian dan ambillah pahala kalian!” Dan wajib bagi setiap muslim bila suka memaafkan maka Allah masukkan dia ke dalam Surganya .”

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ ”

“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangunan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).

Mengapa Harus Memaafkan?
Memaafkan bukan artinya kita mengalah dan menyerah pada keadaan. Memaafkan merupakan sebuah mekanisme pelepasan rasa bersalah, rasa tidak nyaman, rasa benci dan marah pada diri sendiri atau orang lain. Perasaan-perasaan negatif tersebut tidak pernah selesai dan selalu membayangi hidup kita. Tanpa kita sadari, kondisi tersebut juga membuat kita dan kebahagiaan menjadi berjarak.

Memaafkan bukan artinya kita menyangkal semua peristiwa tidak menyenangkan yang pernah terjadi pada kita. Memaafkan justru membantu kita menerima dan berpikir lebih baik untuk melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif, tentang diri maupun orang lain. Ketika kita pernah disakiti orang lain sampai menimbulkan luka batin tertentu, kita memaafkan dengan tidak menghilangkan konsekuensi yang akan dihadapi orang lain karena tindakannya. Kita memaafkan karena kita fokus akan kesehatan mental kita sendiri.

Di sisi lain, memaafkan mungkin hal yang sulit karena kita memainkan beragam perasaan yang harus diurai satu per satu. Bahkan, kita harus siap dengan kegagalan dalam melakukannya. Hal ini menunjukkan bahwa memaafkan merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu dan upaya. Keadaan diri seseorang tidak akan melemah saat memaafkan, justru memaafkan adalah upaya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan siap dengan tantangan serupa atau lainnya di masa yang akan datang. Kita juga mungkin tidak akan langsung mendapatkan dampak baiknya, namun memaafkan setidaknya membantu kita mengurai satu per satu simpul rasa negatif yang menumpuk setelah peristiwa-peristiwa traumatis yang menimbulkan luka batin itu terjadi.

Bagaimana Proses Memaafkan Terjadi ?
Memaafkan diri sendiri merupakan hasil dari proses yang dialami seseorang yang mengambil tanggungjawab untuk ambil bagian dalam situasi yang mengakibatkan perasaan sakit hati, kerusakan fisik pada orang lain, menyimpan perasaan negatif tentang orang lain dan menyalahkan diri sendiri. Memaafkan diri sendiri dicapai kerika individu berhasil mengenali bahwa mereka tidak sempurna dan bisa gagal menciptakan ideal self bagi diri mereka sendiri. Kita akan sampai pada pemikiran bahwa luka batin yang kita alami terjadi karena banyak faktor sehingga tidak perlu menyalahkan salah satunya. Memaafkan diri sendiri merupakan pintu gerbang kita memaafkan orang lain dan lalu melanjutkan hidup dengan perasaan yang lebih positif. Berikut adalah tahapan dalam memaafkan diri sendiri (Flanagan, 1996) :

Mengenali perasaan kita. Biasanya terjadi setelah kita merenungkan peristiwa demi peristiwa yang membangkitkan rasa marah, bersalah, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, depresi, dendam, cemas, menyesal yang semua merupakan akibat dari urusan yang belum selesai. Apa yang betul-betul kita rasakan saat ini? Kenali rasa itu.
Tanggung jawab dengan perasaan kita. Membangkitkan kebutuhan untuk memaafkan diri sendiri. Memunculkan empati diri (bukan mengasihani diri) dari pengakuan rasa ketidaksempurnaan. Kita berpikir bahwa kita bukan makhluk yang sempurna yang semua harus serba ideal. Kita mengakui bahwa kita telah menetapkan standar sangat tinggi di atas kemampuan dan kapasitas kita untuk mencapainya.
Ekspresi perasaan kita. Melalui dialog dengan diri sendiri. Berkontemplasi dan berefleksi. Berdialog dengan membahas perasaan negatif apa yang sudah terlibat dalam masalah ini dan nanti harus diubah dalam proses memafkan diri sendiri. Dialog ini bisa berfokus pada diri sendiri atau dengan orang lain.
Menciptakan kembali citra diri yang baru, lebih positif, mengambil masa lalu sebagai referensi dan berorientasi pada masa depan.
Kapan Membutuhkan Konselor/Terapis?
Kita mungkin membutuhkan bantuan profesional ketika mengalami kesulitan dalam proses memaafkan, namunkita terus berpikir bahwa kita harus keluar dari luka batin yang dirasakan. Pada dasarnya, setiap orang memiliki potensi untuk dapat menyelesaikan masalah sendiri. Apalagi jika supporting system orang tersebut berfungsi dengan baik. Orang terdekat yang mungkin dapat membantu adalah keluarga, teman dekat/sahabat, atau orang-orang lain yang dianggap signifikan dalam hidup seseorang.

Akan tetapi, ada kalanya supporting system kurang berjalan sesuai dengan harapan. Saat kita dalam kondisi yang negatif, tanpa disadari kita mulai menjauh dari orang-orang terdekat. Menarik diri dan menambah rasa negatif dengan menjadi malu, minder, kehilangan kepercayaan diri, merasa diri tidak berharga atau merasa takut ada orang lain yang menyakiti sama dengan yang pernah dialami. Saat itulah kita sulit melihat secara objektif bagaimana sesungguhnya supporting system itu bekerja untuk diri kita. Mereka mungkin mau membantu, namun dengan kondisi kita yang menarik diri akan sulit dijumpai titik temu.

Saat itulah kita membutuhkan batuan dari profesional, baik sebagai konselor ataupun terapis. Profesional dalam hal ini merupakan orang yang netral yang mungkin membuat diri merasa lebih nyaman untuk sharing. Profesional akan membantu untuk mengenali pola-pola yang tidak diharapkan dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan perubahan. Kemudian, menavigasi pikiran kita sendiri untuk menemukan akar penyebab luka batin kita. Setelah itu, kita akan dibawa untuk menyusun rencana untuk mendapatkan kembali kesehatan mental dan kebahagiaan melalui kegiatan pemaafan. Kita hanya perlu jujur, terbuka dan percaya sesuai dengan kemampuan dan berpikir positif bahwa professional yang dipilih dapat membantu berjuang mengatasi luka batin yang kita rasakan.

Terapi Memaafkan

Langkah-langkah penggunaannya afirmasi memaafkan sebagai berikut :

  1. Rileks kan pikiran, perasaan, dan fisik.
  2. Baca secara khusyu dan pahami arti memaafkan

Sekarang rasakan perasaan Anda.

Mulailah untuk memaafkan semua orang yang terlibat dalam masalah Anda.

Biarkan semua perasaan kurang nyaman lepas dari diri Anda membuat Anda lega.

Anda sudah memaafkan mereka semua?…. Bagus.

Sekarang saatnya untuk memaafkan diri Anda sendiri.

Apapun yang sudah Anda lakukan di masa lalu, itu adalah masa lalu.

Sekarang Anda hidup untuk masa depan yang lebih baik.

Maka lepaskan semua rasa kecewa dan rasa bersalah Anda. Biarkan perasaan Anda lega sepenuhnya.

Apakah Anda sudah memaafkan diri Anda sendiri?. Bagus.

Sekarang yang terakhir.

Apapun yang sudah Anda lalui adalah sebuah perjalanan hidup yang pasti ada hikmahnya.

Terima semua itu dengan pasrah dan ikhlas.

Terima sepenuhnya apa yang ditakdirkan Tuhan terhadap Anda di masa lalu.

Lepaskan semua beban perasaan Anda.

Alhamdulillah. .
Ucapkan rasa syukur kepada Allah..

Mau masuk surga? Amalkan amal ringan sebelum tidur ini. Ringan bukan berarti mudah dilakukan, namun tidak mengharuskan kondisi fisik tertentu, bahkan bisa sambil berbaring.

Maafkan setiap orang dan bersihkan diri dari segala rasa iri. Tidurlah setiap malam dalam kondisi tanpa dendam dan tanpa rasa iri. Insya Allah surga menanti.

Berdo’alah kepada Allah:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hasyr: 10)

hhttp:/pijarpsikologi.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *