Pelatihan Kecerdasan Emosi

Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi

Kecerdasan Emosi merupakan penentu utama seseorang dalam keberhasilan dan kesuksesan dalam bidang apapun baik dalam berbisnis maupun sosial. Banyak orang yang cerdas secara Intelektual tapi tak berhasil bahkan terpuruk dalam persaingan hidup yang sulit, itu dikarenakan kecerdasan emosinya kurang. Maka hendaknya kita tingkatkan Kecerdasan Emosi kita. Salah satu cara mengembangkan kecerdasan emosi atau perasa dalam hati kita adalah dengan membiasakan berbuat baik pada diri sendiri maupun orang lain, buang sifat-sifat buruk yang sering kita lakukan dan bersikap empati , peka terhadap orang lain adalah salah satu dari bentuk kecerdasan emosi.
Dengan kecerdasan emosi saja tidak cukup untuk kehidupan ini, namun ada yang paling utama dan kecerdasan tertinggi adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosi hanya di aplikasikan pada sesama manusia saja dan kecerdasan spiritual adalah aplikasi dari manusia dan Tuhan. Alangkah sempurna jika kecerdasan emosi dan spiritual telah berada dalam diri kita dan kecerdasan intelektual sebagai pendukungnya.
Kita di karuniakan radar hati untuk menentukan keputusan jalan baik dan buruk. Dan radar hati merupakan rekaman dari sifat Tuhan yang sudah di patri sebelum lahir ke dunia. Suara hati seseorang akan menjadi teriris karena tidak di dengarkan dan hati kita menjadi buta. Maka kita akan kehilangan arah dan memilih jalan hidup yang salah. Ada beberapa hal yang menyebabkan suara hati dan hati menjadi buta dan buku ini menyebutnya Belenggu. Ada tujuh belenggu yang harus di singkirkan dalam diri kita sehingga suara hati yang merupakan karunia Tuhan terletak dalam otak God Spot kita akan kembali berfungsi dan menjadi manusia yang memiliki kecerdasan emosi dan spiritual yang baik. Ketujuh belenggu itu adalah Prasangka negatif, prinsip-prinsip hidup, pengalaman, kepentingan, sudut pandang, pembanding, fanatisme. Kesemua belenggu-belenggu tersebut harus dihilangkan agar otak God Spot kita berfungsi dengan baik dan menuntun kita ke jalan yang benar.

Menurut Daniel Goleman terdapat 5 (lima) dimensi EQ, yaitu :

  • Self awareness, artinya mengetahui keadaan dalam diri, hal-hal yang lebih disukai, dan intuisi. Kompentensi dalam dimensi pertama adalah mengenali emosi sendiri, mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri.
  • Self regulation, artinya mengelola keadaan dalam diri dan sumber daya diri sendiri. Kompetensi dimensi kedua ini adalah menahan emosi dan dorongan negatif, menjaga norma kejujuran dan integritas, bertanggung jawab atas kinerja pribadi, luwes terhadap perubahan, dan terbuka terhadap ide-ide serta informasi baru.
  • Motivation, artinya dorongan yang membimbing atau membantu peraihan sasaran atau tujuan. Kompetensi dimensi ketiga adalah dorongan untuk menjadi lebih baik, menyesuaikan dengan sasaran kelompok atau organisasi, kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan, dan kegigihan dalam memperjuangkan kegagalan dan hambatan.
  • Empathy, yaitu kesadaran akan perasaan, kepentingan, dan keprihatinan orang. Dimensi ke-empat terdiri dari kompetensi understanding others, developing others, customer service, menciptakan kesempatan-kesempatan melalui pergaulan dengan berbagai macam orang, membaca hubungan antara keadaan emosi dan kekuatan hubungan suatu kelompok.
  • Social skills, artinya kemahiran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki oleh orang lain. Diantaranya adalah kemampuan persuasi, mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas, kemampuan menyelesaikan pendapat, semangat leadership, kolaborasi dan kooperasi, serta team building.

Mengembangkan Kecerdasan Emosional

Goleman menyebutkan ada lima wilayah kecerdasan emosional yang dapat dijadikan pedoman bagi seseorang untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sbb;

*  Mengenali emosi diri. Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada tahap ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan psikologi dan pemahaman tentang diri. Ketidakmampuan untuk mencermati perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Tidak peka akan perasaan yang sesungguhnya akan berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.

Mengelola emosi.  Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan, dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya, orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negatif yang merugikan dirinya sendiri.

Memotivasi diri. Kemampuan seseorang memotivasi diri dapat ditelusuri melalui hal-hal; (a) cara mengendalikan dorongan hati, (b) derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja seseorang, (c) kekuatan berpikir positif, (d) optimisme, dan (e) keadaan flow, yaitu keadaan ketika perhatian seseorang sepenuhnya tercurah ke dalam apa yang sedang terjadi, pekerjaannya hanya terfokus pada satu objek. Dengan kemampuan memotivasi diri yang dimilikinya maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.

Mengenali emosi orang lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

Membina hubungan dengan orang lain. Seni dalam membina hubungan dengan orang lain merupakan keterampilan sosial yang mendukung keberhasilan seseorang dalam pergaulan dengan orang lain. Tanpa memiliki keterampilan, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan sosial. Sesungguhnya karena tidak dimilikinya keterampilan-keterampilan semacam inilah yang menyebabkan seseorang seringkali dianggap angkuh, mengganggu atau tidak berperasaan. Dengan memahami komponen-komponen emosional tersebut, diharapkan seseorang dapat menyalurkan emosinya secara proporsional dan efektif. Dengan demikian, energi yang dimiliki seseorang akan tersalurkan secara baik sehingga mengurangi hal-hal negatif yang dapat merugikan masa depan seseorang.